Pembisik

ARYOS NIVADA
Pengamat Politik dan Keamanan

Pembisik umumnya diartikan orang yang membisikan sesuatu kepada orang lain (prompter). Tingkatan pembisik lebih tinggi dari kisikan dan bisik. Karena pembisik telah menjadi pelaku yang membudayakan kebiasaanya dalam kesehariannya. Ketika ini selalu di reproduksi melalui perilaku pembisik, maka demokrasi yang dihasilkan demokrasi bisikan. Demokrasi bisikan mematikan nilai-nilai transparasi dan partisipasi. Berbicara ciri-ciri pembisik yaitu mampu mempengaruhi orang, biasanya orang yang dekat, mampu mengusai informasi, dan lebih terkesan bermain di belakang layar. Fenomena munculnya perilaku pembisik, lebih disebabkan kelemahan dari personal seseorang. Sehingga mudah di arah oleh orang yang membisikan. Bentuk kelemahan dari kepemimpinan (leadership), kurang intelektual dan kepercayaan diri, sehingga gampang di pengaruhi bisikan-bisikan dari pelaku pembisik.

Tidak tanggung-tanggung orang yang memainkan dan bekerja sebagai pembisik akan cenderung mengarahkan kepentingan dirinya terlebih dahulu, walaupun memberikan masukan untuk kepentingan tuannya dan umum. Akan tetapi, dirinya akan mencari peluang keuntungan dari bisikan yang diberikan kepada seseorang. Bisa dikatakan orang-orang pembisik hanya sekedar menjilat dan melakukan kerjaan fitnah dengan tujuan mendapatkan keuntungan tertentu.

Peran lainnya dari pembisik melakukan penguatan citra politik seorang kandidat yang di usungnya. Apalagi menjelang Pilkada 2011, banyak pembisik berkeliaran untuk mengarahkan suara dan dukungan kepada salah satu kandidat. Langkah yang diterapkan mengarahkan seseorang agar simpatik dan berempati kepada kandidat yang di jagokan tersebut. Pada momentum ini pun meraih pundi-pundi kesejahteraan dari hasil bisikannya. Mirisnya lagi perilaku pembisik bisa berubah seiring keuntungan yang akan di raihnya, misal dulu si pembisik benci dengan pemimpin. Lalu berubah menjadi peduli dan membela si pemimpin yang di benci. Tipe ini marak terjadi menjelang pilkada 2011.

Berkaca pada kondisi Aceh banyak pembisik, bukan mengarahkan kepada sebuah perubahan yang lebih baik bagi Aceh. Faktanya membuat kesesatan pikiran dan memperkeruh suasana politik Aceh. Di tunjukan pada perpolitikan Aceh, mulai dari mengeluarkan kebijakan yang tidak sesuai dan bertolak belakang dengan kebutuhan dasar rakyat maupun pelayanan publik yang seharusnya diberikan dari seorang pemimpin. Tidak hanya itu saja akibat bisikan dari pembisik membuat sistem pemerintahan Aceh menjadi kacau.

Dalam kasus calon independent, saya berpendapat keputusan voting DPRA di mulai dari bisikan orang-orang yang memiliki akses dan berada di sekeliling anggota dewan. Dari pembisikan yang bertentangan menghasilkan kesesatan sebuah keputusan. Dampaknya memicu polemik yang mengarah pada konflik, bilamana tidak bisa diselesaikan dalam rambu-rambu yang sah. Sekali lagi, bagaimanapun pembisik yang akan punya peran besar dalam menggiring lahirnya keputusan voting.

Dampak merugikan kepentingan masyarakat yang ingin berpartisipasi melalui jalur independent. Menurut saya, keputusan Mahkamah Konstitusi merupakan keputusan tertinggi. Keputusan voting meniadakan calon independent merupakan tindakan inkonstitusi terhadap sebuah keputusan tertinggi. Keputusan MK berlaku sertamerta tanpa terkecuali di Indonesia.

Karena itu, bisa membangun karakter anggota dewan yang feodalistik. Seringkali kata ini digunakan untuk merujuk pada perilaku-perilaku negatif yang mirip dengan perilaku para penguasa yang lalim, seperti 'kolot', 'selalu ingin dihormati', atau 'bertahan pada nilai-nilai lama yang sudah banyak ditinggalkan'. Arti ini sudah banyak melenceng dari pengertian politiknya. Ketika seseorang atau sekelompok orang ingin mempertahankan kekuasaan tanpa memberikan ruang berdemokrasi, bisa dipastikan orang tersebut memiliki karakter feodalistik.

Malah guyonan segar yang berkembang di Aceh, jika ingin bertemu dengan anggota dewan, gubernur, atau kepala dinas bukan mereka semua yang harus di temuainya tapi pembisik terlebih dahulu untuk menjadi pelantara atau memfasilitasi permintaan dari seseorang untuk bertemu dengan mereka. Manajemen pembisik ini bukanlah manajemen pemerintahan modern tapi tak lebih dari manajemen kerajaan yang feodalistik.

Para elit politik maupun elit birokrasi bisa diibaratkan seorang tuan dan pembisik ini ibaratnya seekor binatang berkaki empat yang sangat disayanginya. Orang tertentu yang bekerja untuk urusan rakyat di ibaratkan kucing-kucing manis yang sangat ingin bersahabat dengan tuannya. Namun kucing-kucing ini tidak bisa bekerja dengan optimal. Mengingat binatang berkaki empat itu tidak pernah meninggalkan tuannya selama 24 jam.

Dan ironisnya kucing-kucing ini tidak ada yang berani menyembunyikan lonceng berbahaya tatkala binatang berkaki empat mengancam para kucing. Kucing-kucing hanya berani menghindar dan bersumbunyi, mereka hanya berani berkumpul dan berkeluh kesah satu sama lainnya. Akibatnya segala bisikan dari binatang berkaki empat kesayangan si tuannya selalu menjadi referensi untuk mengambil keputusan strategis.

Kondisi pemerintahan dengan ilustrasi tuan – binatang kaki empat dan kucing diatas sudah tentu tidak akan menghasilkan kinerja yang optimal, hasilnya dalam rentang waktu kepemimpinan para pengambil kebijakan. Cenderung saling menjelek-jelekan dan menimbulkan perpecahan sesama pemimpinan tersebut. Rakyat belum merasakan hasil dan janji-janji dari pemimpin, malahan mendapatkan dampak kesengsaraan dan penderitaan. Wal hasil rakyat jauh dari kata kesejahteraan. Bahkan rakyat di sungguhi tontonan konflik sesama elit politik maupun pemimpin. Konflik yang dihasilkan dari para pembisik yang tidak memiliki kepedulian dan keseriusan memperjuangan nasib rakyat.

Masih ada waktu untuk memperbaiki keadaan yang ada, peran pembisik harus diganti dengan peran yang optimal tanpa harus melalui pembisik yang selama ini terhalang oleh pembisik. Jalur komunikasi harus ditata ulang dan pembisik ditempatkan pada porsinya sesuai dengan jabatan dan kewenangan yang seharusnya dijalankan. Tidak lagi peran pembisik mengambil alih peran pemimpin. Begitulah, pembisik lakon yang berada di sekeliling kita, sekarang bagaimana kita mengelola diri manajemen diri terdiri dari kapasitas intelektual, leadership, dan percaya diri.

Sumber :http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=204730:pembisik&catid=46:analisis&Itemid=128

Bookmark the permalink.