KNPI Di Serang Irwandi ?



M. Fauzan Febriansyah dan Aryos Nivada

Salah ucap, tidak faham akan politik, atau tidak mendapatkan dukungan politik dari kaum pemuda yang bernaung di OKP. Begitulah tanggapan kami membaca Serambi Indonesia (6/2/2011)”OKP Aceh diminta tak berpolitik”, atas komentar Irwandi Yusuf (IY). Beranjak dari komentar itulah membuat kami tergugah untuk menulis, walaupun agak terlambat mengomentari. Lantaran ingin melihat terlebih dahulu respon dari kalangan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang peduli akan gerakan politik dan kepemudaan. Gerakan politik tidak harus bersentuhan dengan kekuasaan, tapi bagaimana menjalankan visi dan misi dari OKP serta berpolitik di internal OKP salah satunya melalui pemilihan struktur. Bila ditinjau dari sudut pandang hak SIPOL (sipil politik), ketika hak politik di redam dan dihilangkan secara tidak langsung telah mencerderai hak absolut manusia. Ini bentuk pelanggaran HAM dengan catatan pelakunya adalah negara melalui representatif pelaksana negara.
Ternyata setelah beberapa hari tanggapan pun disampaikan dari OKP lain, bukan dari KNPI sendiri. Tanggapan itu dikemukakan Ketua Umum Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Aceh, Marjoni Abdul Thaleb. Ketua Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Aceh Azhar, Ketua Umum PW Himpunan Mahasiswa Al Wasliyah Aceh Toni Firmayas, Ketua Umum Badko Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Aceh, Sendy Majafara, dan Ketua Umum PW Ikatan Pelajar Muhammadiyah Aceh, Hendrik Saputra, secara tegas meminta Gubernur Irwandi tidak subjektif dalam menilai eksistensi OKP di Aceh. Semestinya kewajiban bagi KNPI melakukan klarifikasi atas komentar IY yang telah menyudutkan serta terkesan memberikan label negatif pada KNPI. Terbesit tanda tanya besar, kemana KNPI? Apakah takut menanggapi komentar IY?
Kritikan Irwandi begitu tendensius, dikarenakan baru sepekan KNPI selesai melaksanakan pelantikan pengurus periode 2011-2013 dan rapat kerja  provinsi mulai 28-29 Januari 2011, gubernur memberikan komentar yang bisa membuat pelantikan pengurus dan musda kemarin menjadi “tabeu”. Atas komentar IY berindikasi kuat kalangan OKP tidak mendukung serta bentuk kepanikan IY yang tidak mendapat simpatik dari OKP. Perilaku tendensius tersebut berpeluang besar menghilangkan dukungan dari kalangan pemuda pada pencalonan gubernur di pilkada 2012 nantinya.
Berbeda dari komentar IY yang hanya memberikan kritik tanpa memberikan solusi. Muhammad Nazar yang hadir dan membuka pelantikan KNPI 2011-2013 berpandangan berbeda dari IY. Dirinya memberikan kritik positif dalam memajukan dan membuat perubahan bagi KNPI agar lebih baik ke depannya. Dia mengatakan, KNPI jangan diciptakan hanya wadah untuk “bergaya” akan tetapi harus mampu menciptakan kader yang produktif. Pemuda Aceh diingatkan untuk menggali keunggulan namun jangan melupkan sejumlah kelemahan, agar tak mudah terhasut oleh pihak lain. Bahkan ia mengingatkan, KNPI harus tampil lebih profesional dan masuk ke kampung. “Jangan hanya di kota, artinya jangan hanya membina orang yang sudah ahli, coba usahakan agar KNPI marambah kampung, sehingga peran KNPI lebih maksimal,” SI (30/1/2011).
Perilaku mengkritik sebuah OKP dialamatkan ke KNPI di dalam forum OKP lain. Bisa diibaratkan makan dirumah sendiri, tetapi yang di komentari masakan di rumah tetangga. Jelas IY kurang memiliki sensitif situasional. Seharusnya konteksnya IY mengkritik atau memberikan saran terhadap OKP yang mengundang. Jangan sampai urusan dukung tidak mendukung dimasukan ke ranah pribadi. Bisa jadi bila OKP yang bernaung di KNPI mendukung IY, maka IY akan diam dan tidak berkomentar seperti itu.
Tidak dinafikan telah terjadi pro dan kontra dalam menanggapi pemberitaan tersebut tidak hanya melalui media massa saja. Di jejaring sosial dunia maya seperti facebook misalnya; ada pemuda yang pro dengan Irwandi terkait peran dan kinerja KNPI. Tapi ada juga kontra soal pemuda dilarang berpolitik. Komentar yang terakhir terkesan kontraproduktif dan ahistoris. Komentar OKP jangan berpolitik tentu bertolak belakang dengan semangat OKP mendorong perubahan dan mengambil peran dalam tata pembangunan masyarakat. Kehadiran OKP memberikan warna tersendiri serta bersama dengan komponen masyarakat sipil lainnya untuk memajukan Aceh Baru yang lebih baik dari segala aspek kehidupan. Landasan dan tiang utamanya adalah kesadaran politik dalam bingkai membawa perubahan yang dilakoni para pemuda.
Apalagi ada kesalahan Irwandi, dimana lemah memahami sejarah ke Indonesian. Kita mengetahui bahwa organisasi kepemudaan telah memberikan kontribusi besar kepada kemerdekaan Indonesia. Sebelum Indonesia merdeka, negara kita memiliki berbagai organisasi kepemudaan yang beranggotakan para pemuda-pemudi Indonesia baik yang bersifat nasional maupun kedaerahan di antaranya; Budi Utomo/Boedi Oetomo berdiri pada tahun 1908 yang pada awal mula berdirinya merupakan organisasi pelajar yang ruang lingkupnya masih kedaerahan, namun pada perkembangannya berubah menjadi organisasi perkumpulan pemuda nasional. Trikoro Dharmo /Tri Koro Dharmo  adalah sebuah perkumpulan pemuda yang berasal dari Jawa pada tahun 1915 di gedung kebangkitan nasional. Organisasi ini kemudian mengubah nama menjadi Jong Jawa pada kongres di Solo. Arti definisi/pengertian dari tri koro dharmo adalah Tiga Tujuan Mulia dan  Jong Sumatra Bond (Persatuan Pemuda Sumatra), Organisasi ini berdiri pada tahun 1917 yang memiliki tujuan untuk mempererat hubungan antar pelajar yang berasal dari Sumatera. Beberapa toko terkenal dari organisasi ini yaitu seperti M. Hatta dsan M. Yamin.
Jadi jangan menafikan dan menghilangkan peran OKP pada masa-masa sebelum dan sesudah kemerdekaan. Gerakan politik bisa juga dilakukan secara personal, seperti Hasan Tiro yang sejak muda membangun kesadaran politik dan mengambil langkah politik untuk menuntut keadilan bagi Aceh. Komentar tersebut juga tendensius, menyerang KNPI tanpa member solusi, menyalahkan pemuda tanpa mengatakan harus bagaimana peran pemuda.
Atas komentar itu, menunjukan kelemahan dari komunikasi politik yang dibangun IY kepada kalangan pemuda. Kalau IY mau berpikir jernih, ini peluang untuk meraih dukungan secara personal dari kalangan pemuda pada Pilkada mendatang. Tapi pemikiran itu tidak tertangkap dalam alam pikirnya. IY yang ahli propaganda GAM malah menyerempet “kendaraan” orang lain atau malah membangun “orang” yang sedang tidur pulas.
Kami sangat sepakat dengan komentar Tgk H. Nuruzzahri (Waled Nu) mengatakan kalangan pemuda dari santri harus faham politik agar tidak muda di tipu oleh orang-orang yang berperilaku politik kotor. Hal yang harus di perhatikan, keberadaan pemuda harus memiliki nilai tawar secara politik dalam memperjuangkan hak-hak pemuda dan masyarakat Aceh secara keseluruhan.
            Akhirnya, mari hilangkan sifat mendeskriditkan OKP, bila kita sendiri tidak memberikan konstribusi terhadap kemajuan. Jadikan OKP sebagai rekan kerja dalam membangun perubahan bagi Aceh yang lebih baik ke depannya. OKP sendiri harus benar-benar sejalan dengan visi dan misi terbentuknya, jangan tergerus pada hausnya kekuasaan semata. [] M. Fauzan Febriansyah dan Aryos Nivada, Inisiator Aceh Youth Forum dan Mahasiswa S2 UGM Jurusan Politik dan Pemerintahan.

This entry was posted in . Bookmark the permalink.